Mengangkut Tawanan Perang dan Peti Senjata

Oleh : Anneke

Pertengahan Juli 1946, saya bersama Nila Kusumah, Supiah dan Aminah bertugas secara rutin di kamar operasi. Bagian chirurgi harus dalam keadaan siaga selama 24 jam. Untuk itu, RS Bayuasih mendapat bantuan tambahan beberapa chirurgi dari Jakarta diantaranya Dokter Djamaludin.

 

Tidak seperti biasa, saya diminta datang oleh Mayor Suroto Kunto ke kantor Dokter Sudjono. Ada apa ? Apakah saya akan diminta lagi menari topeng? Akh, saya sudah dua kali menari. Sekali menghibur prajurit dan yang lain pada malam mencari dana untuk membeli obat. 

” Selamat siang dokter, selamat siang To. Apa saya harus menari topeng lagi? Terus terang saya sudah bosan dan ingin ikut berjuang”, saya apriori.

” Anneke..tugasmu sekarang membantu saya. Kamu masih menguasai Bahasa Belanda dan Perancis? Dalam waktu dekat kita akan menyerahkan tawanan perang Sekutu dari Purwakarta ke Manggarai, Jakarta kepada International Red Cross (Palang Merah Internasional). Teman-teman dari Perwira Penghubung (Laison Officer) akan menjemput kita. Saya akan membawa satu peleton prajurit dan kamu boleh pilih teman yang menemanimu. Tugasmu mengurus tawanan perang yang sakit. Bersikaplah bersahabat! Bila ada kata-kata atau ejekan yang tidak enak dari para tawanan, bersabarlah “, kata Mayor Kunto. 

 

Pada hari yang telah ditentukan, sejak subuh kami telah bersiap diri. Aminah dan saya memakai baju kongafu kaigun (perawat di jajaran angkatan laut) berwarna hijau lumut yang biasa dipakai ketika bertugas di front. Karena saya juga seorang penari, alat-alat kecantikan selalu ada dan sekarang kami memakainya. Rambut dikepang agar rapi dan tidak mengganggu pekerjaan. Saat kami dijemput Mayor Kunto dengan sebuah truk India, dia nampak terkesima dan tersenyum.

 

Sesampai di Stasiun Purwakarta, tentara kita sudah siap dan tengah menantikan kedatangan tawanan perang. Mereka itu pria dan wanita dari berbagai usia. Kebanyakan orang Belanda dan keturunan (indo) Belanda. Saya lihat beberapa manula yang telah lama ditahan oleh Jepang tengah berjalan tertatih-tatih. Saya dan Aminah memapah orang-orang yang masih mampu berjalan, yang tak mampu ditandu para prajurit Tentara Indonesia.

 

Seorang tawanan bertanya :

Zuster..waar brengt u ons naar toe? Bent U een extremis, toch niet hoop ik               (Perawat..kemana kami akan dibawa?  Apa anda seorang ekstrimis, saya harap bukan)”.

Saya jawab ”Wij gaan naar Batavia en ik vech voor de vrijheid van mijn vaderland ….   (Kita akan ke Batavia dan saya berjuang untuk kemerdekaan tanah air saya).

 

Setelah semua tawanan masuk, kereta langsung diberangkatkan. Mayor Suroto menugaskan kami mendampingi yang sakit. Kami tidak menutup jendela. Untuk menenteramkan hati mereka, kami ajak mereka ngobrol sesuai tugas mengantar tawanan dalam keadaan selamat sampai tujuan. Dalam perjalanan yang cukup panjang untuk ukuran waktu itu, saya ceritakan bahwa kami adalah mahasiswa dan komandan kami adalah mahasiswa sekolah kedokteran tingkat akhir. Timbul respek mereka ketika saya ceritakan juga perjuangan melawan Jepang dan kini untuk kemerdekaan.

 

Di stasiun Klender, pasukan dari Zeven Desember Divisi masuk dan menggeledah kereta api. Tentara Indonesia yang mengawal kami diperbolehkan bersenjata sesuai perjanjian internasional. Para tawanan terutama yang berkulit coklat berterial ” Oranye boven ! Lang leve de Koningin”. Tentara dari divisi 9 Desember  tersenyum-senyum melihat tingkah  itu.

 

Kereta api melanjutkan perjalanan. Sampai di stasiun Jatinegara kami disambut dengan pekik ”Merdeka! Merdeka! “. Saya merinding, tenggorokan seakan tersumbat dan menahan air mata. Ingin rasanya ikut meneriakkan pekik yang magis itu, ”Merdeka atau Mati !”. Republik Indonesia di Jatinegara secara de facto masih tetap berdiri.  

 

Ketika kereta telah sampai stasiun Manggarai, Mayor Suroto Kunto mendatangi dan memerintahkan kami agar segera menurunkan tawanan. Kami salami mereka satu per satu dan mengucapkan ”Tot wederziens  (sampai ketemu lagi) ”.

Di kejauhan, di antara penjemput dari ICRC (International Committee of Red Cross) saya melihat seorang perempuan berkulit bukit mengenakan seragam Swiss Red Cross. Tinggi semampai dan cantik pula. Dia segera menghampiri saya, namanya Madame Eagle istri administratur perkebunan di Cianjur.

 

Vous etes la fille du Regent Cianjur?” (Apa anda puteri Bupati Cianjur). Karena terkesima, tanpa sadar saya jawab pakai bahasa Jepang ”Sayo des gozaimasu”. Agaknya Madam Eagle memahami kegugupan saya.

Ah..ma cherie, ma cherie”, lalu yang dicium dan dikenalkan kepada orang ICRC dan seorang Belanda. Dia kemudian bercerita kepada kawan-kawannya bahwa setiap liburan kami sering tinggal di perkebunannya. Dan ayah saya sangat fasih berbahasa Perancis. Saya juga bercerita bahwa ayah, ibu dan seluruh anggota ada di wilayah Republik Indonesia. Ayah kami sekarang jadi residen diperbantukan di Gubernur Subang. Sementara ibu aktif membantu di dapur umum. Kakak kami ada yang di PMI, ada juga yang bekerja bagi pemerintah RI. Madame Eagle mengajak saya menginap di rumahnya, tetapi dengan halus saya menolak karena harus tinggal bersama rombongan dan besok pagi kembali ke Purwakarta.

 

Keesokan harinya kami dijemput oleh laison officer yang tinggal di Jl. Cilacap. Di kereta, Mayor Suroto meminta kami agar nanti mengalihkan perhatian para penggeledah bila tiba di Klender. Karena Aminah punya senyum manis yang menawan, tugas ini adalah bagiannya.

Setiba di Klender, serdadu-serdadu yang sama datang menggeledah. Ternyata adalah vrejwillingers (sukarelawan) dan dari kata-kata mereka ucapkan, saya menangkap kesan bahwa mereka merasa tertipu karena disuruh melawan bangsa yang tengah berjuang untuk kemerdekaan. Sedangkan para pemuda Belanda ini baru terbebas dari cengkeraman Nazi Jerman.

 

Sumber: ringkasan tulisan dengan judul sama dalam buku Seribu Wajah Wanita Pejuang Dalam Kancah Revolusi ’45, buku pertama, Grasindo (1995) halaman 1 – 5.    

Image

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Staf Putri dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mengangkut Tawanan Perang dan Peti Senjata

  1. Ping balik: Masih Adakah Nurani Kebangsaan dan Kemanusiaan Di Dalamnya ? | karyabaktiuntuknegeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s